Jumat, 12 April 2013

Makalah Etika Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN
I.I    Latar Belakang
            Manusia merupakan Zoon Politicon (Aristoteles: 384-322 SM) artinya dalam kesehariannya Manusia membutuhkan orang lain dalam menunjang kegiatannya di Muka bumi ini. pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dengan berkumpul dengan manusia, jadi makhluk yang bermasyarakat . dari sifat suka bergaul dan bermasyarakat itulah manusia dikenal sebagai makhluk sosial.1 Suka atau tidak suka Manusia dalam kesehariannya akan menghadapi dan bergaul bersama masyarakat, manusia tidak dapat hidup sendiri bahkan untuk memenuhi kebutuhannya manusia membutuhkan manusia lain.
            Indonesia adalah merupakan negeri yang penuh dengan budaya sopan santun dengan berbagai macam etnis dan adat istiadat, Negara indonesia menganut sistim ketimuran yang artinya bahwa di Indonesia ini masih kentak dengan budaya yang sopan dan santun. Guna untuk menyeimbangkan kesopanan antara yang tua dan yang muda ataupun dalam hal menyeimbangkan budaya dengan cara pergaulan untuk itulah sangat diperlukan peranan etika.
            Namun pada prakteknya dimasyarakat, lambat laun etika itu tergerus dengan arus yang dinamakan Globalisasi atau biasanya disebut Zaman Modernisasi. Sejauh manakah pengaruh Globalisasi terhadap Etika bermasyarakat di Indonesia? Berdasarkan pada Latar belakang inilah maka pada maklah kami ini akan membahas tentang DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP ETIKA BERMASYARAKAT DI INDONESIA, yang akan kami bahas pada bab selanjutya.
I.II   Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah pada makalah Kami ini adalah sebagai berikut:
1.      Sejauh mana Dampak globalisasi terhadap Etika bermasyarakat di Indonesia?
2.     
1 dtiawarnet.blogspot.com
 
Bagaimanakah bentuk antisipasi dalam hal mengatasi pegaruh Globalisasi terhadap Etika Bermasyarakat di Indonesia?
I.III Landasan Teori
1.      Pengaruh merupakan kekuasaan yang mengakibatkan perubahan perilaku orang lain atau kelompok lain (Sosiologi Pedesaan)
2.      Globalisasi dapat didefinisikan sebagai intensifikasi,relasi social sedunia yang menghubungkan lokalitas yang saling berjauhan sedemikian rupa sehingga sejumlah peristiwa social dibentuk oleh peristiwa yang terjadi pada jarak bermil-mil (Anthony giddens,2005:84)
3.      Globalisasi merupakan fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan tekhnologi yang sangat cepat (Kamus Bahasa)
4.      Globalisasi adalah sebuah payung yang mewadahi adanya perubahan karena efek kolektif yang berakibat sebuah perubahan (Wikipedia)
5.      Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai norma dan moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya (Drs. H. Burhanudin Salam)

I.IV  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai Tugas kelompok yang di berikan oleh Dosen Mata kuliah Etika Pemerintahan.









BAB II
PEMBAHASAN
II.I   Pengertian Globalisasi
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi dapat didefinisikan sebagai intensifikasi,relasi social sedunia yang menghubungkan lokalitas yang saling berjauhan sedemikian rupa sehingga sejumlah peristiwa social dibentuk oleh peristiwa yang terjadi pada jarak bermil-mil2
Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi.3
Globalisasi adalah proses lanjutan dari perkembangan perekonomian dunia,sutu keadaan dimana segenap aspek perekonomian/pasokan dan permintaan bahan mentah,informasi dan transfortasi tenaga kerja,keuangan,distribusi,serta kegiatan-kegiatan pemasaran atau terintegrasi dan kian terjalin dalam hubungan saling ketergantungan yang berskala dunia4
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
2Anthony giddens,2005:84
3Suara Pembaruan Daily
4carnoy,1993

 
 

II.II  Makna Etika
Kata etika berasal dari bahasa yunani kuno yaitu “Ethos”, dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti diantara nya tempat tinggal biasa, padang rumput,kanang,kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir, dalam bentuk jamak artinya “ta etha”, artinya adat  kebiasaan Prof. Dr.Suwito memberikan tiga pengertian tentang etika dalam bukunya Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih yaitu :
1.      Nilai atau norma – norma menegenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat, contoh Etika suku Indian, Etika Protestan, dan lain-lain.
2.      kumpulan asas atau nilai moral yang berkenaan dengan akhlak,yang dmaksud disini adalah kode etik, contohnya Etika kedokteran,Etika Rumah sakit Indonesia, dan lain-lain.
3.      Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral(akhlak),  Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai tentang yang dianggapbaikdan buruk) yang bisa diterima oleh masyarakat umum.

Etika berkaitan dengan nilai, norma, dan moral. Di dalam Dictionary of Sosciology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai dan pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Jadi nilai itu hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.
Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan dan keharusan. Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan yaitu:
1.      Nilai-nilai kenikmatan
Dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan yang menyebabkan orang senang atau menderita tidak enak.
2.      Nilai-nilai kehidupan
Dalam tingkatan ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi kehidupan misalnya kesehatan, kesegaran jasmani, dan kesejahteraan umum.
3.      Nilai-nilai kejiwaan
Dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan. Misalnya nilai keindahan, kebenaran maupun lingkungan.
4.      Nilai-nilai kerohanian
Dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci. Misalnya nilai-nilai pribadi. Ada empat macam nilai-nilai kerohanian, yaitu:
a.      Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (ratio, budi, cipta) manusia.
b.      Nilai keindahan atau nilai estetis, yang bersumber pada perasaan manusia.
c.       Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak manusia.
d.      Nilai religius, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.
Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah lakunya. Jadi norma sebagai penuntun sikap dan tingkah laku manusia. Antara norma dan etika memiliki hubungan yang sangat erat yaitu etika sebagai ilmu pengetahuan yang membahas tentang prinsip-prinsip moralitas. Etika memiliki peranan atau fungsi diantaranya yaitu:
1.      Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia
2.      Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa
3.      Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang.
4.      Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam masyarakat.


II.III Pengaruh Globalisasi
Globalisasi menunjukkan perubahan besar dalam masyarakat dunia Khususnya di indonesia . Apa yang ditunjukkan bukan sesuatu yang remeh-temeh. Bukan sekadar soal kita menambahkan perlengkapan modern seperti, video, fashion, televisi, parabola, komputer, dan sebagainya dalam cara hidup. Kita hidup di dalam dunia yang sedang mengalami transformasi yang luar biasa, yang pengaruhnya hampir melanda setiap aspek dari kehidupan. Entah baik atau buruk, kita didorong masuk ke dalam tatanan global yang tidak sepenuhnya dipahami oleh siapapun, namun dampaknya bisa kita rasakan.Fenomena tersebut tidak melulu dalam pengertian ekonomi. Globalisasi juga berdimensi politik, teknologi, budaya dan keagamaan. Akan sangat keliru, jika menganggap globalisasi hanya berkaitan dengan sistem-sistem besar, seperti tatanan perekonomian dunia. Globalisasi bukan soal apa yang ada “di luar sana”, terpisah langsung, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia juga merupakan fenomena “di sini”, yang langsung mempengaruhi sistem kepercayaan dan kehidupan kita. 
Dengan kian merebak dan canggihnya teknologi media, memungkinkan sebuah masyarakat menyaksikan bentuk-bentuk kehidupan dan sistem kepercayaan lain yang berbeda. Sebuah masyarakat juga menyaksikan masyarakat lain dalam macam-macam gaya hidup, orientasi keagamaan yang berlainan, ragam etnis-suku bangsa, perbedaan bahasa dan sebagainya. Bahkan, bukan itu saja, globalisasi seperti yang diungkapkan Anthony Giddens juga merupakan efek jarak jauh (time-space distanciation). Maksudnya, apa yang terjadi pada satu belahan bumi, bisa terjadi efek pada belahan bumi yang lain. Misalnya, teror bom di Bali dengan serta merta mempengaruhi dunia kehidupan masyarakat di belahan bumi lainnya. Pada intinya, kehidupan masyarakat global saat ini dihadapkan pada pluralitas kebudayaan yang saling mempengaruhi, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.Saling pengaruh di antara ragam kebudayaan, jika tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan konflik yang hebat, berkepanjangan dan susah dihentikan.
Seperti yang disinyalir oleh Samuel Huntington, garis-garis batas dalam dunia mutakhir (dunia era pasca-Perang Dingin) tidak berasal dari politik atau ideologi, melainkan kebudayaan. Dalam karyanya yang kontroversial ‘The Clash of Civilization” (1993), Huntington berpendapat bahwa ikatan sekelompok masyarakat modern semakin ditentukan oleh warisan agama, bahasa, sejarah, dan tradisi yang mereka miliki bersama atau yang disebut sebagai peradaban.Tatkala perjumpaan peradaban satu dengan yang lainnya, melalui globalisasi, tidak berkembang secara adil, dan tidak ada saluran komunikasi, maka benih-benih permusuhan kian menggumpal dan siap meledak. Buat kebanyakan orang yang tinggal di luar Eropa dan Amerika Utara, globalisasi terkesan tidak menyenangkan, seperti Westernisasi atau mungkin Amerikanisasi. Ketika muncul peradaban yang dominan dan dirasakan menindas oleh peradaban yang lain, kemungkinan terjadi “benturan peradaban” (Clash of Civilization) saat mungkin.
Namun, konflik-konflik dalam dunia modern tidak hanya antar peradaban, bahkan dalam peradaban yang sama bisa terjadi konflik. Menurut Kenichi Ohmae, dalam peradaban yang sama, masyarakat sering berperang di antara mereka masing-masing. Misalnya, konflik di Irlandia Utara antara penganut Protestan dan Katolik, bukan merupakan alasan yang tepat untuk menyatakan kebencian yang mendalam, karena sama-sama Kristen. Contoh lain, akan sulit menjelaskan konflik di Ambon, di mana masyarakatnya berada dalam tradisi dan suku yang sama. Perbedaan keyakinan dalam masyarakat Ambon, antara Islam dan Kristen, bukanlah perbedaan besar, karena pada intinya sebenarnya kedua agama itu samapunya tradisi dan akar sejarah yang sama: semitik.
Dalam bukunya yang berjudul The End of Nation State (1995), Ohmae berpendapat bahwa perang biasanya terjadi ketika para pemimpin politik menonjolkan perbedaan-perbedaan kecil secara tajam seraya menciptakan kebencian latenbukan ketika antar peradaban saling berbenturan, sebagaimana dinyatakan Huntington. Seakan menyanggah tesis Huntington, Kenichi Ohmae berpendapat bahwa konflik-konflik terjadi lebih disebabkan oleh para pemimpin politik yang kolot yang melibatkan rakyat untuk melakukan konfrontasi bersenjata. Persoalannya adalah, bagaimana memikirkan kelangsungan kehidupan masyarakat global saat ini dan di masa depan? Bukahkah intensitas konflik-konflik dalam masyarakat global kian meningkat, sangat rawan dan terkesan tak terkendali. Bukankah kehidupan masyarakat global kian tercabik-cabik dengan begitu sering konflik-konflik di antara mereka. Apa yang memungkinkan kohesi sosial (nilai-nilai pengikat) dalam masyarakat global, yang di dalamnya terdapat beraneka ragam pluralitas, bisa diupayakan.
Seiring dengan peralihan dari masyarakat tradisional yang relatif homogen ke masyarakat global yang pluralistik, terjadilah krisis legitimasi yang luar biasa di dalam masyarakat global tersebut. Krisis legitimasi dalam pengertian bahwa tatanan legitim masyarakat tradisional sebuah tatanan masyarakat yang didasarkan pada sebuah sistem kepercayaan atau agama mulai kehilangan validitasnya.Akan muncul tendensi perlawanan jika sebuah masyarakat coba diatur dengan dan oleh aturan masyarakat lain. Akan lebih kacau lagi jika setiap kelompok masyarakat memaksakan sistem kepercayaannya sebagai yang “paling benar” untuk mengatur masyarakat dunia.Oleh karena itu, diperlukan sebuah visi besar untuk mengawal perkembangan masyarakat global saat ini dan di masa depan. Seorang teolog besar abad ini, Hans Kung, mengajukan sebuah visi besarnya tentang etika global. Dalam karyanya yang berjudul A Global Ethics for Global Politics and Economics (1997), Hans Kung menyatakan tak akan ada tatanan baru tanpa sebuah etika dunia yang baru; sebuah etika global. Ia mendefinisikan etika global sebagai sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan oleh semua sistem kepercayaan (agama) meskipun terdapat perbedaan dogmatis, dan yang sesungguhnya bisa juga disumbangkan oleh kaum non-beriman (ateis).
Dalam kehidupan masyarakat global, menurut Hans Kung, konsensus berarti kesepakatan yang memerlukan standar etika fundamental (nilai-nilai universal) yang meskipun terdapat banyak perbedaan wujudnya dalam agama, bentuk-bentuk kehidupan, budaya, politik, namun dapat diposisikan sebagai basis terkecil bagi kehidupan masyarakat yang pluralistik. Sebuah konsensus global dimungkinkan terwujud di atas moralitas dasar yang membatasi dirinya hanya pada beberapa tuntutan fundamental (nilai-nilai universal); seperti kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan semacamnya. .Tentu saja, nilai-nilai universal dalam sebuah konsensus global tidak bersifat subjektif (monologal). Artinya, kebenaran dalam sebuah konsensus tidak bisa didasarkan pada klaim kebenaran yang sifatnya subjektif atau kebenaran yang dipikirkan sendiri. Menurut Jurgen Habermas, orang tidak boleh menganggap klaim kebenarannya sebagai kebenaran yang sudah selesai yang mengatasi hubungan-hubungan sosial (FB Hardiman: 2002). Karena kebenaran yang sifatnya subjektif bisa mentotalisir atau fasis, seperti yang dilakukan oleh Hitler dan Musollini.
Jadi, kebenaran dalam sebuah konsensus, seperti yang dikatakan Habermas, bersifat intersubjektif (dialogal). Melalui dialog yang bebas dominasi, jujur dan terbuka, nilai-nilai konsensus sebagai etika global dapat dikukuhkan. Tanpa etika global, cepat atau lambat masyarakat modern terancam konflik-konflik dan kekacauan.Namun, harus juga disadari bahwa etika global ini bukanlah obat mujarab yang langsung memberikan solusi bagi persoalan dunia. Setidaknya, etika global memberi tuntutan dan dasar moral bagi individu maupun tatanan global yang lebih baik. Hans Kung juga tidak naif, bahwa tuntutan etika global ini bukan main sulitnya untuk mahkluk rasional sekalipun. Tetapi, menurut dia, harus ada tuntutan semacam itu dalam dialog yang riil dalam masyarakat global. Kalau tidak, dialog akan jatuh pada perspektif etnosentris, entah agama, ras, bangsa, dan kelompok-kelompok kepentingan. Jadi, etika global dalam masyarakat global merupakan keniscayaan
Di Zaman Globalisasi saat ini banyak pengaruh yang mempengaruhi remaja. Ada pengaruh yang positif ada juga pengaruh yang negatif. Sebagai remaja yang baik kita harus memanfaatkan alat – alat / teknologi yang sudah canggih sehingga mampu menguasainya. Indonesia adalah negara yang masyarakatnya mempunyai etika yang baik. Tapi saat ini banyak sekali remaja yang tidak sopan, tidak menghormati orang yang lebih tua darinya. Mungkin itu adalah pengaruh negatif dari Globalisasi. Dan itu menyebabkan pergaulan bebas, narkoba, dll.hal-hal itu harus dihindari. Tapi kita juga tidak boleh menyalahkan adanya Zaman Globalisasi, karena jika tidak ada Zaman Globalisasi kita tidak akan mengenal alat – alat komunikasi yang canggih. Nilai moral bangsa dinilai dari etika masyarakatnya. Jadi, jika ingin mempunyai nilai moral bangsa yang baik kita harus menjaga etika. Gunakan slogan ” Jika ingin dihormati, Hormatilah orang lain.” Agar kita sopan terhadap orang lain. Jadi, kita dianggap bangsa yang berbudi baik dimata bangsa lain. Etika seharusnya diajarkan sejak dini oleh orang tuanya. Anak biasanya menirukan kegiatan orang tuanya,maka dari itu orang tua seharusnya melakukan kegiatan yang mampu memberikan arti etika baik. Dan mampu dimengerti oleh si anak. Dengan didikan yang baik anak tersebut akan menjadi anak yang sopan kelak. Dan anak tersebut juga harus mempunyai iman yang kuat. Sehingga, mampu melawan pengaruh buruk Globalisasi seperti Narkoba, Sex bebas, dll.Pesannya : ” Jadilah remaja yang terhindar dari hal – hal buruk yang mampu mempengaruhi kita, sehingga kita mempunyai etika yang buruk” dan “Experience is the best theacher.
Etika juga dipengaruhi oleh tontonan yang kita lihat. Jika yang kita lihat baik untuk kita maka kita akan terpengaruh untuk menjadi baik juga.
II.IV Dampak Globalisasi Terhadap Etika Bermasyarakat di Indonesia
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.    
Pemikiran Liberalis yang tanpa batas sudah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dengan peradaban budaya timur Indonesia yang begitu tinggi dengan nilai kesopanan, tata krama yang diikat oleh aturan agama, tapi kini sudah terpuruk dengan moral yang rendah dan nilai etika serta adab yg jauh dari kesopanan maupun peradaban manusia yg mengkampanyekan pornografi dan pornoaksi dengan alasan seni, serta berusaha melegalkan kaum homoseksual untuk diakui keberadaannya, dan ajang-ajang miss universe yang mengumbar kemolekan tubuh dan dibingkai dengan latar belakang intelligent pendidikan yang tinggi, yang sebenarnya sudah melanggar batasan budaya Indonesia dan kaidah agama.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Selain itu juga banyak terjadi kasus sex bebas yang dilakukan remaja akhir-akhir ini merupakan akibat dari globalisasi. Untuk itu, orang tua harus bisa menjaga prilaku anaknya agar tidak terpengaruh dengan perilaku seks bebas. Pengaruh seks bebas memang tidak bisa dihindari, karena sekarang ini zaman globalisasi namun, pengaruh perilaku seks bebas bisa dihindari. Kuncinya pada orang tua. Bagaimana orang tuanya menjaga anak-anaknya dan memperhatikan perilaku anaknya agar tidak terpengaruh dengan perilaku seks bebas. Pengaruh seks bebas adalah gejolak yang wajar. Tapi, semua pihak harus bisa menjaganya agar kaum remaja itu tidak terpengaruh perilaku Semua pihak harus bisa menjaga agar jangan samapi terjadi perilaku seks bebas. Termasuk para wartawan. Jangan memberikan judul yang bombastis, menakutkan dan menyeramkan seks bebas.
Sementara itu, pengaruh seks bebas di era globalisasi memang tidak bisa dihindari.
Yang bisa dilakukan adalah bagaimana orang tua dapat menjadi teman yang baik bagi anaknya. Menjadi tempat curhat dan bisa mengarahkan perilaku anaknya ke hal-hal yang positif. Hal lainnya seperti mabuk-mabukan,maraknya kasus narkoba yang terjadi dikalangan anak muda dan semakin mudahnya ditemukan diskotik terutama di kota-kota besar sehingga mendorong anak muda atau remaja untuk mencari hiburan kesana.
Pengaruh globalisasi terhadap etika atau kesantunan dalam kehidupan berbangsa bernegara yaitu mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat dan juga munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
II.V  Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Etika
Berbagai cara mulai dilakukan dalam mengantisipasi pengaruh negatif Globalisasi yang semakin berkembang di Indonesia, adapun langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai etika antara lain yaitu :
1.      Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2.      Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3.      Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4.      Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
5.      Perlunya perhatian para orang tua dalam memantau pergaulan dan cara hidup anaknya.
6.      Perlu adanya Etika global, yaitu sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan olen semua sistem kepercayaan (agama)meskipun terdapat perbedaan dogmatis. Konsensus memerlukan standar etika fundamental (nilai-nilai universal) yang meskipun terdapat banyak perbedaan wujudnya dalam agama. Sebuah konsensus global dimungkinkan terwujud diatas moralitas dasar (nilai-nilai universal),seperti kebenaran,keadilan,kemanusiaan,dan semacamnya.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.
















BAB III
PENUTUP
III.I  Kesimpulan
1.      Munculnya Globalisasi di Indonesia sangat berdampak terhadap Etika Bermasyarakat terutama pada generasi muda, Dampak yang ditimbulkan berupa dampak positif yakni perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin berkembang sehingga dengan mudah masyarakat dapat mengakses berbagai macam informasi secara cepat, akan tetapi Globalisasi memiliki dampak Negatif yakni generasi muda mulai kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang yakni, dari cara berpakaian, berdandan, moralitas, dan Perilaku sehari- hari.
2.      Adapun langkah yang mesti dilakukan dalam hal mengantisipasi pengaruh Negatif Globalisasi antara lain:
a.      Menumbuhkan semangat Nasionalisme
b.      Menanamkan dan mengamalkan Nilai Pancasila
c.       Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama
d.      Lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi
e.      Perhatian pra orang tua dalam memantau pergaulan anak
III.II Saran
1.    Kepada Pemerintah agar sekiranya lebih Intens lagi dalam hal melakukan Fillterisasi terhadap informasi dan tekhnologi yang masuk di Indonesia.
2.    Kepada Generasi Muda harapan bangsa agar lebih selektif dalam memanfaatkan tekhnologi dan Informasi agar dapat bermanfaat tanpa harus menghilangkan budaya asli Bangsa Indonesia.




DAFTAR PUSTAKA

Noer, Rosita.1998. Menggugah Etika Bisnis Orde Baru. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
http://www.scribd.com/doc/8365104/PENGERTIAN-ETIKA/diunggah pada tanggal 16 April 2012.
http://artikel.sabda.org/globalisasi/ diunggah tanggal 17 April 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Etika/ di unggah tanggal 17 April 2012



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar