Jumat, 12 April 2013

TEORI DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN


TEORI DASAR
PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pada dasarnya manusia akan selalu berhadapan dengan namanya masalah, entah itu secara pribadi ataupun kelompok dan untuk menyelesaikan masalah tersebut hendaklah manusia mencari solusi dari permasalahan tersebut dan segera menetapkan  keputusan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Keputusan pada dasarnya adalah pilihan yang secara tidak sadar dijatuhkan atas satu alternatif dari berbagai alternatif yang ada.
Teori dasar pengambilan keputusan mencakup langkah dalam hal menyelesaikan masalah, adapun ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi masalah dan membuat definisinya
2.      Mengumpulkan dan mengolah data
3.      Mengidentifikasi berbagai alternatif yang mungkin ditempuh
4.      Menganalisa dan menglaji setiap alternatif yang telah di identifikasi
5.      Menjatuhkan pilihan pada satu alternatif yang terbaik
6.      Melaksanakan keputusan yang diambil
7.      Menilai apakah hasil yang diperoleh sesuai harapan dan rencana atau tidak
Salah satu hal yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan ialah adanya keterkaitan langsung antara tindakan yang diambil dengan tujuan dan berbagai sasaran yang ingin dicapai. Salah satu teori yang telah dilakukan oleh para ahli pengambilan keputusan adalah mengklasifikasikan keputusan kepada dua jenis utama, yaitu keputusan terprogram, dan keputusan yang tidak terprogram.
A.     Keputusan terprogram
Keputusan terprogram adalah tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung berulang kali, dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan pengarahan dari tingkat menajemen yang lebih tinggi.
Para ahli dalam bidang ini secara terus menerus memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,dengan menciptakan pendekatan-pendekatan baru, seperti Operations research, Model pengambilan keputusan, simulasi, dan pemanfaatan teknologi komputer. Contoh yang nyata terlihat pada administrasi perkantoran dan surat menyurat sebagai aplikasi kemajuan teknologi yang paling sederhana.
Pemanfaatan teknologi canggih dalam memecahkan masalah repetitif dan rutin sangat membawa manfaat bagi para manajer dengan alasan:
1.      Dapat lebih banyak mendelegasikan wewenang kepada bawahannya.
2.      tidak lagi harus menggunakan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk memecahkan masalah karena sudah dapat dilakukan oleh bawahannya.
3.      Berkurangnya tenaga pelaksana teknis dari berbagai kegiatan operasional, sehingga tenaga yang tersedia dapat dilatih dan dialihkan untuk melaksanakan kegiatan yang sifatnya lebih produktif.
Pangambilan keputusan secara terprogram hanya dapat berlangsung dengan efektif apabila memenuhi empat kriteria dasar, yaitu:
1.      Tersedianya waktu dan dana yang memadai untuk pengumpulan dan analisis data.
2.      Tersedianya data yang sifatnya kuantitatif
3.      Kondisi lingkungan yang relatif stabil, tidak terdapat tekanan kuat untuk secara cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap kondisi yang selalu berubah.
4.      Tersedianya tenaga terampil untuk merumuskan permasalahan secara tepat, termasuk terpenuhinya tuntutan operasional.
B.      Keputusan yang tidak terprogram
Keputusan ini diambil dalam usaha pemecahan masalah- masalah baru yang belum pernah dialami sebelumnya, dalam menyelesaikan persoalan dibutuhkan nalar yang tinggi yang dihubungkan dengan tindakan yang sifatnya adaptatif dan berorientasi pada efektifitas pemecahan.
Keputusan yang tidak terprogram ini pada umumnya hanya dilakukan oleh para manajer.Jadi betapa pentingnya recruitment (pengarahan), penempatan dan pengembangan tenaga manajerial terutama mereka yang di prioritaskan untuk menduduki jabatan manajemen puncak dalam organisasi.
C.      Proses pengambilan keputusan
Pendekatan yang dipakai dalam kegiatan pengambilan keputusan agar menjadi lebih efektif, adalah:

1.      Pendekatan yang interdisipliner
Proses pengambilan keputusan terdiri dari berbagai tindakkan dengan memanfaatkan berbagai ragam keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan berorganisasi.
Proses pengambilan keputusan memerlukan penggunaan ide atau persepsi tentang baik dan yang tidak baik yang memperhitungkan nilai-nilai organisasional, sosial, moral, dan etika. Disamping itu pula karena dalam proses pengambilan keputusan Manusia memainkan peranan yang paling menentukan, maka filsafat hidup, nilai-nilai yang dianut, latar belakang pendidikan, pengalaman, pandangan, turut pula berperan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Faktor selanjutnya yang juga berperan adalah lingkungan, memperhitungkan masalah lingkungan mencakup dua hal,yakni:
a.      Lingkungan sebagai sumber data dan informasi yang sangat berguna sebagai masukan untuk dianalisis dan dikaji dalam usaha mencari dan menemukan berbagai alternatif yang mungkin ditempuh.
b.      Lingkungan yang dalam berbagai bentuk, akan memberikan reaksi baik yang positif maupun yang negatif terhadap keputusan yang diambil.
-      Ilmu Ekonomi
-      Ilmu Statistik
-      Filsafat
-      Agama
Kesimpulan daripada pendekatan indisipliner ini bahwa salah satu tugas penting seorang pengambil  keputusan adalah mengintegrasikan berbagai aspek tersebut sedemikian rupa sehingga tercipta proses yang dapat berfungsi dengan baik.
                                                                                                                            
Proses pengambilan keputusan
 

-      Sosiologi
-      Psikologi
-      Sosial
-      Psikologi
-      Etnologi





-      Hukum
-      Antropologi
-      Ilmu politik
-      Matematika
-      Informatika


Kerangka Interdisipliner Pengambilan keputusan
2.      Proses yang sistematis(atomik)
Pendekatan ini adalah merupakan suatu proses logis yang melibatkan pengambilan langkah-langkah secara berturut atau sekuensial dengan merinci proses tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (pendekatan atomik) sehingga pengambilan keputusanpun akan berjalan dengan efektif.
Pendapat lain mengatakan juga bahwa proses yang sistematis ini adalah proses pengambilan keputusan menyangkut dengan naluri, daya pikir, dan serangkaian metode intuitif yang keseluruhannya dirangkum yang menjadi suatu kreatifitas (pendekatan holistik).
3.      Proses berdasarkan informasi
Pengambilan keputusan tanpa informasi berarti menghilangkan kesempatan belajar secara adaptif. Seorang manajer harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang Informatika untuk pengambilan keputusan yang efektif serta harus menuntut agar tersedia baginya informasi yang memenuhi persyaratan kemutakhiran, kelengkapan, dapat dipercaya dan disajikan dalam bentuk yang tepat
4.      Memperhitungkan faktor-faktor ketidakpastian
Betapa pun telitinya perkiraan keadaan, dalamnya kajian terhadap berbagai alternatif, tetap tidak ada jaminan bebas dari resiko ketidakpastian. Untuk itu pengambilan keputusan harus dapat Memperhitungkan probabilitas (kemungkinan) keberhasilan atau kekurang-berhasilan pelaksanaan suatu keputusan.
5.      Diarahkan pada tindakan nyata
Mengambil suatu tindakan harus dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan berakhir dan proses pengambilan keputusan dimulai. Masalah dan sasaran sering mempunyai siklus pertumbuhan dan penyusutan, demikian juga faktor-faktor yang mempengaruhi. Hal tersebut harus dikenali secara tepat karena akan sangat mempengaruhi keputusan untuk bertindak atau tidak bertindak
D.     Tindakan memutuskan
Tindakan memutuskan adalah suatu tindakan yang paling penting dilakukan oleh seorang pengambil keputusan dalam proses pengambilan keputusan. Mendalami cara-cara pengambil keputusan bertindak, dan mengapa mereka bertindak demikian, merupakan studi tersendiri yang disebut dengan teori keprilakuan dalam pengambilan keputusan. Secara umum para pengambil keputusan memiliki kesamaan dalam mengambil keputusan yang efektif, antara lain:
1.      Berani mengambil resiko dengan pendekatan yang holistik
2.      Menyelesaikan suatu permasalahan secara optimal agar tidak timbul permasalahan serupa di masa yang akan datang
3.      Memiliki kecenderungan mengambil sikap dan memandang pengambilan resiko sebagai tanggung jawabnya.
4.      Mempunyai kepercayaan yang besar terhadap kemampuannya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.
5.      Kecenderungan memberikan lips service pada saran dan pendapat para bawahannya serta orang lain yang mungkin terlibat.
Kepustakaan tentang manajemen menunjukkan kesamaan pendapat para ahli menyatakan bahwa, tindakkan memutuskan merupakan titik sentral dari berbagai peranan yang diharapkan dari seorang manajer.
Dalam melakukan pengambilan keputusan hendaknya membuat suatu kerangka konseptual, kerangka konseptual ini merupakan dasar dari pengambilan keputusan hal ini disebabkan karena dengan adanya kerangka konseptual yang mantap, maka akan mencegah seseorang pengambil keputusan bertindak tergesa-gesa serta dengan adanya kerangka konseptual yang mantap akan menambah keyakinan  dalam diri pengambil keputusan yang bersangkutan karena memutuskan didasari dengan sekar hati-hati dan dengan cara berpikir yang logis.kerangka konseptual pula memudahkan para pengambl keputusan untuk menentukan prioritas penanganan berbagai problematika yang timbul.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar